Dobraknusantara.com, -AMBON – Di balik dinginnya ruang perawatan intensif RSUP Prof. Dr. W.Z. Johannes (Leimena) Ambon, seorang gadis kecil berusia 14 tahun berinisial SKP sedang bertarung nyawa melawan rasa sakit yang tak terbayangkan. Tubuhnya hancur, tulangnya remuk, dan darahnya hampir habis terkuras setelah terlindas truk militer dalam konvoi Calon Siswa (Casis) TNI pada awal Maret lalu. Namun, di tengah derita fisik yang luar biasa itu, keluarga korban justru merasa semakin terpukul oleh sikap institusi yang dianggap hanya memberi “basa-basi” tanpa tanggung jawab nyata.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hingga Rabu (15/4/2026), lebih dari satu bulan pasca-kejadian maut di Jalan Jenderal Sudirman, Batu Merah tersebut, SKP masih tergeletak lemah. Ibunya, Mariska Muskita (41), menuturkan dengan air mata bagaimana putrinya harus menerima lebih dari 40 kantong transfusi darah untuk menggantikan cairan hidup yang hilang saat peristiwa nahas itu.
“Dengan diagnosa pendarahan hebat pada organ hati, cedera serius pada panggul dan pangkal paha, hingga pembengkakan otak yang membuatnya kejang, anak saya sudah seperti mayat hidup. Tapi Puji Tuhan, dia selamat. Itu murni mujizat Tuhan,” ujar Mariska lirih.
Ujian Sambil Menangis Tahan Sakit
Semangat belajar SKP seolah menjadi ironi paling menyayat hati. Di tengah kondisi tubuh yang dipenuhi alat medis dan rasa sakit akibat operasi pemasangan pen pada panggul (30 Maret) serta operasi hati (12 Maret), siswi kelas IX SMP Negeri 6 Ambon itu memaksa diri mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada 6-7 April lalu dari atas ranjang rumah sakit.
“Dia mengerjakan ujian matematika dan bahasa Indonesia sambil menahan rasa sakit yang luar biasa. Saya lihat dia menangis saat mengerjakan soal, tapi dia tetap berusaha menyelesaikan sampai tuntas. Bayangkan, anak sekecil itu harus menderita begini,” kisah Mariska pilu.
Kalimat terakhir SKP sebelum operasi besar masih terngiang-ngiang di telinga sang ibu: “Ma, oto Truck tentara yang muat CASIS giling Kia.” Kata-kata sederhana itu kini menjadi saksi bisu betapa besarnya trauma yang dialami korban akibat alat berat milik negara yang seharusnya melindungi rakyat.
Janji Manis vs Realita Pahit
Di atas puing-puing harapan keluarga untuk melihat SKP sembuh total, Mariska mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap sikap Kodam XV/Pattimura. Meskipun pihak militer sempat berjanji akan menanggung seluruh biaya pengobatan hingga korban pulih 100%, realitas di lapangan menunjukkan hal yang berbeda.
“Memang ada bantuan santunan sekitar Rp25 juta dari pimpinan TNI dan panitia Casis, serta donor darah. Itu kami hargai. Tapi pernyataan bahwa mereka akan bertanggung jawab sampai sembuh itu buktinya di mana?” tanya Mariska dengan nada tinggi.
Bagi keluarga, bantuan sesaat terasa tidak memadai dibandingkan dengan masa depan SKP yang terancam hancur. Cedera permanen pada panggul dan potensi gangguan pasca-trauma membutuhkan rehabilitasi jangka panjang, pendampingan psikologis, dan jaminan pendidikan yang belum pernah disinggung secara konkret oleh pihak militer.
“Anak saya bukan binatang yang diberi makan sekali lalu ditinggalkan begitu saja. Kami sudah sebulan lebih di rumah sakit, baru Danrem yang datang menjenguk. Mana Pangdam? Kenapa tidak ada kejelasan soal jaminan masa depan anak saya?” seru Mariska kecewa.
Bantahan “Tabrak Lari” yang Tak Menjawab Penderitaan
Sementara keluarga berjuang setiap detik untuk menyelamatkan nyawa SKP, pihak Kodam XV/Pattimura melalui Kapendam, Kolonel Inf. Heri Krisdianto, lebih sibuk membantah narasi “tabrak lari” di media sosial. Pihak militer bersikeras bahwa konvoi sempat berhenti menunggu konfirmasi, namun karena korban tidak menyusul, mereka melanjutkan perjalanan.
Alasan prosedural dan pembelaan diri tersebut dinilai keluarga sama sekali tidak menjawab inti permasalahan: adanya warga sipil, seorang anak di bawah umur, yang terlindas oleh kendaraan dinas militer dan kini terancam cacat seumur hidup.
“Pihak TNI bilang bukan tabrak lari, oke. Tapi apakah dengan itu penderitaan anak saya selesai? Apakah tulang yang patah bisa menyambung sendiri hanya dengan pernyataan pers? Kami butuh aksi nyata, bukan sekadar pembelaan diri,” tegas Mariska.
Tuntutan Keadilan yang Mendesak
Keluarga korban kini menuntut langkah konkret yang melampaui sekadar santunan simbolis. Mereka mendesak adanya:
1. Komitmen tertulis penanggungjawaban biaya pengobatan hingga pemulihan total (100%).
2. Program rehabilitasi medis dan psikologis jangka panjang.
3. Jaminan pendidikan dan masa depan bagi SKP, mengingat risiko cacat permanen yang dialaminya.
4. Kunjungan dan perhatian langsung dari pimpinan tertinggi Kodam XV/Pattimura sebagai bentuk empati kemanusiaan.
Kasus ini menjadi cermin retaknya hubungan antara militer dan rakyat jika tidak ditangani dengan hati nurani. Di satu sisi, ada konvoi kebanggaan yang mengangkut calon prajurit masa depan. Di sisi lain, ada masa depan seorang anak yang hancur tertimpa roda kendaraan tersebut.
Saat SKP terus berjuang menahan sakit demi sebuah ujian sekolah, publik menanti: Akankah para pemimpin militer turun tangan benar-benar memeluk dan menjamin masa depan korban, ataukah SKP hanya akan menjadi statistik kecelakaan lalu lintas yang perlahan dilupakan setelah berita basi? Bagi Mariska dan keluarganya, waktu terus berjalan, dan setiap detik penundaan tanggung jawab adalah siksaan tambahan bagi anak mereka yang sedang terluka.(DN)













