DN.COM, -AMBON – Di tengah dinding tinggi dan kawat berduri Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon, sebuah gerakan penuh harapan mulai tumbuh. Mengusung semangat “Satu Jengkal Satu Harapan”, Rutan Ambon resmi memulai gerakan tanam pangan sebagai wujud nyata dukungan terhadap ketahanan pangan nasional sekaligus media pembaharuan hidup bagi warga binaan. Kamis (26/3/2026).
Gerakan ini ditandai dengan pengecekan langsung ke lapangan oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Rutan, Jefry R. Persulessy. Bukan sekadar inspeksi rutin, langkah Plt. Karutan ini merupakan simbol dimulainya babak baru di mana setiap jengkal tanah di lingkungan rutan diubah menjadi sumber kehidupan dan peluang masa depan.
Mengubah Lahan Tidur Menjadi Ladang Harapan
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam peninjauannya, Jefry Persulessy melihat secara detail kesiapan lahan yang sebelumnya kurang teroptimasi. Kini, area tersebut sedang digarap serius untuk ditanami berbagai komoditas pangan seperti sayuran daun, cabai, dan tanaman obat keluarga (TOGA).
“Filosofi kami sederhana: satu jengkal tanah yang kita olah hari ini adalah satu unit harapan yang kita tanam untuk besok,” ujar Jefry saat berdiri di atas gundukan tanah yang siap tanam. “Bagi kami, lahan ini bukan sekadar aset properti negara, tapi kanvas bagi warga binaan untuk melukis masa depan mereka kembali.”
Jefry menekankan bahwa program ini dirancang bertahap. Dimulai dari pengolahan tanah, penyemaian bibit unggul, hingga perawatan intensif yang melibatkan warga binaan secara langsung. Tujuannya jelas: menciptakan siklus produksi pangan mandiri yang berkelanjutan di dalam rutan.
Sekolah Kehidupan di Atas Tanah
Lebih dari sekadar memproduksi sayur dan buah, gerakan tanam ini berfungsi sebagai “sekolah kehidupan” (life skill). Bagi banyak warga binaan yang mungkin belum pernah memegang cangkul atau mengenal siklus pertanian, kegiatan ini membuka wawasan baru.
“Kami ingin warga binaan belajar bahwa dari proses yang sabar—mengolah tanah, menyiram, menunggu tunas tumbuh—akan membuahkan hasil yang nyata. Ini adalah metafora sempurna untuk proses pembinaan mereka sendiri,” jelas Jefry.
Para petugas pembina kemandirian mendampingi warga binaan dengan pendekatan kekeluargaan. Mereka belajar bersama tentang teknik pertanian modern yang efisien, manajemen air, hingga cara memupuk tanah agar tetap subur. Keterampilan ini diharapkan menjadi bekal berharga saat mereka nanti kembali ke tengah masyarakat, bahkan berpotensi menjadi sumber penghasilan utama.
Kontribusi Nyata untuk Negeri
Langkah Rutan Ambon ini juga merupakan respons cepat terhadap program strategis pemerintah pusat mengenai ketahanan pangan. Dengan memanfaatkan lahan terbatas di perkotaan seperti Ambon, Rutan membuktikan bahwa lembaga pemasyarakatan bisa menjadi mitra aktif pemerintah dalam swasembada pangan.
“Hasil panen nanti tidak hanya akan dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan gizi warga binaan, mengurangi beban anggaran makan, tetapi juga rencananya akan disalurkan untuk membantu masyarakat sekitar atau pasar lokal. Ini adalah bentuk gotong royong dari balik tembok rutan,” tambah Jefry.
Optimisme Menuju Panen Raya
Suasana di lokasi peninjauan terlihat antusias. Warga binaan yang terlibat tampak bersemangat menyiapkan alat pertanian dan mengecek kondisi bibit. Senyum optimisme terpancar, seolah mereka menyadari bahwa setiap biji yang ditanam adalah investasi untuk kebebasan dan kemandirian mereka kelak.
Dengan dimulainya gerakan “Satu Jengkal Satu Harapan” ini, Rutan Ambon berkomitmen untuk terus memperluas area tanam dan diversifikasi produk. Harapannya, rutinitas bercocok tanam ini akan menciptakan lingkungan yang lebih hijau, sehat, dan positif, serta mencetak mantan warga binaan yang produktif dan mandiri.
Seperti kata Plt. Karutan Jefry Persulessy di akhir kunjungannya, “Tanah ini akan berbicara. Dan kita berharap, ia akan bercerita tentang kesuksesan, perubahan, dan harapan baru bagi kita semua.”(DN)













