DN,- Ambon – Ketua Pengurus Kota (Pengkot) Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Ambon Fenly Masawoy menyebutkan penguatan kapasitas organisasi dan sinergitas perguruan silat menjadi topik pembahasan utama pihaknya seusai terpilih memimpin organisasi ini periodesasi 2025-2029 atau empat tahun ke depan.
Yang tak kalah penting adalah peningkatan kualitas pelatih pencak silat Kota Ambon agar kelak dapat melahirkan pesilat-pesilat andal yang mewakili Maluku di pentas Pekan Olahraga Nasional (PON) XX 2028 Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Penguatan kapasitas organisasi ini maksudnya kita akan hidupkan kembali atau kita aktifkan lagi perguruan-perguruan pencak silat yang ada di Ambon. Kita akan rangkul semua perguruan-perguruan pencak silat untuk jadikan organisasi ini menjadi “Rumah Besar” dari seluruh perguruan-perguruan yang ada.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jadi nantinya tidak ada perguruan-perguruan pencak silat yang dianaktirikan. Semua akan diberikan peran yang sama dan juga diberikan penguatan kapasitas yang sama pula,” papar Masawoy kepada Dobrak di Ambon, Senin (8/12).
Menurut dia, pihaknya akan melakukan banyak hal termasuk menjadi mediator dari organisasi olahraga pencak silat di Kota Ambon. “Setelah penguatan kapasitas, selanjutnya kita akan melakukan pembinaan secara struktural dari usia dini hingga usia dewasa sampai nanti ada harapan atlet-atlet tersebut dapat berprestasi di banyak event-event lokal maupun nasional, sebab selama ini pencak silat Kota Ambon belum pernah masuk di PON. Kita memang perlu suport semua komitmen ini,” ujarnya. “Untuk ke depannya, kita perlu memodernisasi persiapan penyelenggaraan event-eventnya.
Jadi diharapkan ke depan kita harus punya skema untuk buat kejuaraan-kejuaraan ataupun perbanyak event-event lokal. Kita punya target di mana wajib setiap tahun itu minimal ada dua event olahraga pencak silat yang kita adakan supaya memang ter-update dan itu juga menjadi bagian dari evaluasi kita sekaligus untuk mencari atlet-atlet berbakat yang dapat berlaga di PON maupun event nasional di masa mendatang,” lanjutnya.
“Selanjutnya kita tak melihat pencak silat hanya sebagai cabang olahraga bela diri, tetapi juga warisan budaya. Dengan membina dan mengembangkan pencak silat, kita telah berperan melestarikan seni budaya silat untuk setidaknya jadikan pencak silat sebagai jati diri, sebagai warisan budaya yang bisa dikenal luas, sehingga pencak silat harus terus diperkenalkan dan dikembangkan di Kota Ambon,” cetusnya.
“Nah, terkait dengan target prestasi di mana kita sama-sama sudah tahu bahwa pada Popmal IV 2023 kemarin tim pencak silat Kota Ambon berhasil meraih juara umum dan di PON Bela Diri II di Kudus ada dua atlet kota Ambon yang sukses bawa pulang dua medali perunggu.
Untuk itu kalau di 4 tahun kemarin kita hanya bisa mengirimkan atlet hanya ke Pra PON di Solo. Semoga pada PON 2028 nanti harapan kita agar ada atlet-atlet binaan IPSI Kota Ambon yang turun berlaga di situ menjadi kenyataan. Prinsipnya kita berupaya semaksimal mungkin untuk bagaimana kita membawa organisasi ini agar dapat melahirkan atlet-atlet yang bisa tampil di PON 2028 nanti,” tekadnya. Untuk mencapai obsesi tersebut, sebut Masawoy, pihaknya relatif membutuhkan topangan pemerintah, masyarakat dan juga dunia usaha sebab tanpa kolaborasi tersebut tak akan mungkin IPSI Kota Ambon berbuat maksimal untuk dapat melahirkan atlet-atlet pencak silat andal yang mewakili Maluku di multievent olahraga nasional. “Kita butuh dukungan pemerintah, semua elemen masyarakat terutama dari perguruan-perguruan pencak silat yang ada maupun dari pihak swasta,” sebutnya. Selain peningkatan kapasitas organisasi dan memperbanyak event-event pencak silat untuk menambah jam terbang pesilat, Masawoy mengakui peningkatan kualitas pelatih menjadi kendala pencapaian prestasi pencak silat di Maluku hingga saat ini. “Sebelum saya menjadi ketua saya sudah berkesempatan mendampingi atlet pencak silat Maluku bertanding di Padepokan Pencak Silat milik Pak Prabowo Subianto. Waktu itu memang saya melihat kualitas pelatih kita masih tergolong rendah. Karena itu, kita akan menggelar kursus-kursus pelatih nasional di Ambon, karena untuk ukuran wasit dan juri pencak silat kita sudah punya beberapa, tapi yang perlu dibenahi adalah soal kualitas pelatihnya karena minim sekali,” pungkasnya. (DNC)

















