DN. COM,-Ambon — Insiden kurang menyenangkan terjadi saat sesi doorstop antara Gubernur Maluku dan sejumlah jurnalis televisi di Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Maluku, Kamis (5/3/2026). Peristiwa tersebut menuai sorotan dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengurus Daerah Maluku.
Dalam momen itu, jurnalis SCTV, Juhri Samaneri, mengajukan pertanyaan kepada Gubernur Maluku terkait kuota mudik. Namun respons yang muncul justru bernada keras dan dinilai tendensius. Bahkan, wartawan yang bersangkutan sempat diminta menunjukkan kartu identitas (ID Card) serta mendapat pertanyaan layaknya interogasi.
IJTI Maluku menilai situasi tersebut tidak mencerminkan komunikasi yang sehat antara pejabat publik dan insan pers yang sedang menjalankan tugas jurnalistik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua IJTI Maluku, Imanuel Alfred Souhaly, mengatakan wartawan bekerja untuk memenuhi kebutuhan informasi publik sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
“Pertanyaan yang diajukan wartawan merupakan bagian dari tugas jurnalistik untuk menghadirkan informasi yang dibutuhkan masyarakat. Karena itu kami berharap pejabat publik dapat merespons dengan sikap yang tenang dan profesional,” ujar Souhaly.
Ia mengakui dinamika di lapangan sering terjadi dengan cepat, namun menurutnya hal tersebut tidak seharusnya berujung pada respons emosional yang dapat menimbulkan kesan intimidatif terhadap wartawan.
IJTI Maluku menegaskan bahwa hubungan antara pemerintah dan pers seharusnya dibangun atas dasar saling menghormati. Keduanya memiliki peran penting dalam memastikan masyarakat memperoleh informasi yang jelas, akurat, dan dapat dipercaya.
Organisasi profesi jurnalis televisi itu juga mengingatkan bahwa keterbukaan informasi serta sikap saling menghargai antara pejabat publik dan media merupakan fondasi penting dalam menjaga iklim demokrasi yang sehat di daerah.
IJTI Maluku berharap peristiwa tersebut menjadi perhatian bersama agar komunikasi antara pejabat publik dan insan pers ke depan dapat berjalan lebih baik, tanpa tekanan maupun sikap yang berpotensi menghambat kerja jurnalistik. (DN)


















