DN. Com, -Langgur – Bupati Maluku Tenggara, , menegaskan bahwa Kecamatan Manyeuw, Kecamatan Kei Kecil Timur (KKT), dan Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan (KKTS) merupakan satu kesatuan ekosistem yang saling menopang dalam pengembangan potensi wilayah.
Penegasan tersebut disampaikan saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027 tingkat kecamatan yang digelar di Gedung Amalir Loor, Ohoi Danar, Senin (2/3/2026).
Menurut Bupati, pelaksanaan Musrenbang tiga kecamatan secara bersama dilakukan karena tantangan dan potensi yang dimiliki saling terhubung. “Masa depan ketiga kecamatan ini akan lebih kuat jika dibangun bersama,” tegasnya.
Pangan dan Pariwisata Saling Menguatkan
Bupati menjelaskan, KKT dan KKTS selama ini dikenal sebagai lumbung pangan Maluku Tenggara. Kedua wilayah tersebut menjadi benteng ketahanan pangan daerah dengan produksi jagung, ubi kayu, serta berbagai komoditas pertanian lainnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, Manyeuw berperan sebagai gerbang pariwisata. Di wilayah ini terdapat Pantai Ngurbloat atau Pasir Panjang yang telah dikenal luas dengan pasir putihnya yang halus, serta sejumlah destinasi lain seperti Ngur Sarnadan dan Pantai Debut.
“Ketika wisatawan datang ke Ngurbloat, mereka membutuhkan pangan lokal. Dan pangan itu datang dari tanah-tanah di KKT dan KKTS. Ketiga kecamatan ini adalah satu ekosistem: pangan menyangga pariwisata, pariwisata mengangkat nilai pangan,” ujarnya.
Ia menegaskan, tidak ada kecamatan yang miskin di Maluku Tenggara. Yang ada, menurutnya, hanyalah potensi yang belum dikelola secara maksimal.
Pertanian Terpadu dan Ekonomi Kreatif
Bupati memaparkan, KKTS memiliki produksi kelapa tertinggi di Pulau Kei Kecil, sedangkan KKT menjadi penghasil utama jagung dan ubi kayu yang menopang kebutuhan pangan lokal. Jika dikelola secara terintegrasi, Maluku Tenggara dinilai mampu membangun kawasan pertanian terpadu sebagai model kemandirian pangan.
Potensi tersebut, lanjutnya, harus diikuti penguatan sektor hilir melalui pengembangan ekonomi kreatif. Hasil pertanian seperti ubi dan jagung dapat diolah menjadi produk bernilai tambah, mulai dari keripik, tepung, hingga makanan tradisional Kei yang dikemas modern sebagai oleh-oleh khas wisata.
Di sektor pariwisata, selain Ngurbloat, Manyeuw juga memiliki potensi pengembangan destinasi baru di Ohoilir dan Ngirwarat. Bahkan, Desa Wisata Ohoi Ngilngof pernah meraih penghargaan dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia yang digelar oleh .
Data kunjungan wisatawan ke Maluku Tenggara menunjukkan tren peningkatan signifikan, dari 18.264 wisatawan pada 2020 menjadi 129.300 wisatawan pada 2024. Rata-rata lama tinggal wisatawan juga meningkat, membuka peluang besar bagi penguatan ekonomi lokal.
Dana Desa Dipangkas, Strategi Bertahan Disiapkan
Dalam kesempatan itu, Bupati juga menyoroti pemotongan Dana Desa tahun 2026. Pada Oktober 2025, alokasi untuk 190 ohoi ditetapkan sebesar Rp121,6 miliar. Namun setelah terbitnya PMK Nomor 7 Tahun 2026, anggaran tersebut dipangkas menjadi Rp52,1 miliar atau turun 58 persen.
Pemerintah daerah berupaya menutup kekurangan melalui Alokasi Dana Ohoi dari APBD sebesar Rp38,2 miliar, Bagi Hasil Pajak dan Retribusi Rp2,8 miliar, serta BPJS perangkat ohoi Rp1,2 miliar. Secara total, dana yang mengalir ke 192 ohoi tahun ini mencapai sekitar Rp94,3 miliar, meski dinilai masih jauh dari kebutuhan ideal.
Di tengah keterbatasan tersebut, Bupati menegaskan tiga langkah utama.
Pertama, memastikan setiap rupiah Dana Desa dibelanjakan untuk kebutuhan yang langsung menyentuh masyarakat, seperti jalan usaha tani, embung pertanian, gudang penyimpanan hasil panen di KKT dan KKTS, serta infrastruktur pendukung wisata seperti toilet bersih, dermaga kecil, dan penunjuk arah di Manyeuw.
Kedua, mendorong ohoi membangun pendapatan mandiri melalui pengolahan hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah yang dikelola melalui BUMO dan koperasi.
Ketiga, menghidupkan kembali program Ve’e Kesyang atau Kebun Bekal di setiap ohoi sebagai bentuk kearifan lokal dalam menjaga ketahanan pangan keluarga.
Perkuat SDM dan Jaga Warisan Kei
Bupati juga mendorong setiap ohoi untuk menemukan dan memperkuat keunggulan masing-masing, baik di sektor pertanian, perkebunan, wisata bahari, kampung budaya, maupun sentra kuliner.
“Ketika setiap ohoi kuat pada satu hal, kecamatan akan kuat pada banyak hal,” katanya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas kecamatan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) petani dan pelaku UMKM, serta pelatihan pemuda sebagai pemandu wisata profesional.
Di akhir sambutannya, Bupati mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian alam dan warisan budaya Kei, mulai dari pasir putih Ngurbloat, terumbu karang, lahan pertanian, hingga tradisi sasi sebagai kearifan lokal.
“Orang Kei sudah memahami keberlanjutan jauh sebelum istilah itu populer. Tradisi sasi adalah bukti kearifan lokal yang harus terus dijaga,” pungkasnya. (DN)



















