DN,-ZENICA – Sejarah buruk kembali berulang bagi sepak bola Italia. Mimpi Gli Azzurri untuk tampil di Piala Dunia 2026 resmi pupus setelah takluk dramatis dari Bosnia dan Herzegovina dalam laga playoff penentuan di Stadion Bilino Polje, Zenica, Selasa (31/3/2026) malam waktu setempat.
Kekalahan ini semakin memperparah luka sejarah, mengingat ini adalah kali ketiga berturut-turut Italia gagal melangkah ke putaran final Piala Dunia (setelah absen di 2018 dan 2022).
Jalannya Laga: Dari Harapan Jadi Kepastian Pahit
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
* Unggul Lebih Dulu: Italia memulai laga dengan impresif. Gol cepat dari Moise Kean pada babak pertama sempat memberikan harapan besar bagi ribuan suporter Azzurri.
* Titik Balik Nasib: Segalanya berubah saat bek andalan Alessandro Bastoni diusir wasit usai menerima kartu merah. Italia terpaksa bermain dengan 10 orang selama hampir satu jam penuh.
* Mental Runtuh: Bermain dengan jumlah pemain kurang, pertahanan Italia goyah. Bosnia, yang didorong oleh suasananya yang mencekam, berhasil menyamakan kedudukan lewat gol Haris Tabakovic di menit-menit akhir waktu normal.
* Tragedi Penalti: Skor 1-1 bertahan hingga babak perpanjangan waktu. Pada drama adu penalti yang menegangkan, mental Italia hancur lebur. Mereka takluk 1-4, mengubur harapan mereka dalam-dalam di tanah Bosnia.
Reaksi Gattuso: “Darah Saya Habis Terkuras”
Suasana ruang pers pasca-pertandingan berubah menjadi sangat emosional. Pelatih berusia 48 tahun itu, Gennaro Gattuso, tak kuasa menahan air mata. Dengan suara bergetar, ia menyampaikan permintaan maaf yang tulus kepada seluruh rakyat Italia.
“Saya meminta maaf secara pribadi karena gagal membawa tim ini lolos. Namun, saya bangga luar biasa pada anak-anak saya. Mereka bertarung layaknya prajurit di parit pertahanan meski hanya bersepuluh orang. Mereka tidak pantas menerima hasil sekejam ini,” ucap Gattuso sambil mengusap air mata di hadapan wartawan RAI Sport.
Gattuso juga menggambarkan betapa hancurnya perasaan dirinya dengan kalimat yang menyentuh hati:
“Jika Anda menusuk saya dengan belati hari ini, tidak akan ada darah yang keluar. Darah saya sudah habis terkuras. Kegagalan ini sangat menyakitkan bagi pergerakan sepak bola Italia.”
Menolak Menyalahkan Wasit & Masa Depan Menggantung
Laga ini sebenarnya diwarnai kontroversi. Pelanggaran keras terhadap Marco Palestra yang sedang breakaway menuju gawang hanya dihargai wasit Clement Turpin dengan kartu kuning, bukan kartu merah. Banyak pihak merasa Italia dirugikan, namun Gattuso dengan besar hati menolak menjadikan hal tersebut sebagai alasan.
“Inilah sepak bola. Saya tidak ingin membicarakan wasit. Saya sudah lama di dunia ini, saya tahu rasanya menang dan hancur lebur seperti hari ini,” tegas mantan kapten AC Milan tersebut.
Kini, pertanyaan besar melayang di udara: Apakah ini akhir dari era Gattuso di Timnas Italia? Saat ditekan mengenai masa depannya, Gattuso memilih bungkam dan enggan membahasnya.
“Membicarakan masa depan saya hari ini tidak penting. Yang terpenting seharusnya adalah pergi ke Piala Dunia. Kami sangat kecewa,” tutupnya singkat sebelum meninggalkan ruangan.
Italia kini harus menelan pil pahit: absen dari tiga edisi Piala Dunia beruntun. Sebuah rekor kelam yang belum pernah terjadi dalam sejarah sepak bola negara empat kali juara dunia tersebut. (DN)













