DN. COM, – Ambon – Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas IIA Ambon, Hendra Budiman, menegaskan komitmennya dalam meningkatkan disiplin pegawai sekaligus mendorong kemandirian warga binaan melalui berbagai program pembinaan produktif selama lima bulan terakhir masa kepemimpinannya.
Dalam wawancara, Hendra mengungkapkan bahwa peningkatan disiplin pegawai menjadi salah satu capaian utama. Ia menyebut tingkat kehadiran petugas, baik dari bagian administrasi maupun pengamanan, kini hampir maksimal setiap hari.
“Setiap pagi, kehadiran pegawai nyaris 96 persen. Semua lini kita monitoring, mulai dari keamanan, administrasi, hingga pembinaan dan kegiatan kerja,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak hanya fokus pada internal, pihaknya juga mengembangkan program ketahanan pangan sebagai bagian dari pembinaan warga binaan. Salah satunya melalui budidaya kacang panjang yang telah dipanen sebanyak dua kali.
“Hasilnya memang belum besar, tapi sudah mulai memberikan manfaat. Satu ikat dijual Rp5.000, dan hasilnya kita kelola sebagai kas kegiatan,” jelasnya.
Selain itu, inovasi juga dilakukan melalui pengembangan selada air dengan sistem hidroponik. Program ini melibatkan warga binaan secara langsung dengan pendampingan petugas.
“Dalam waktu sekitar 24 hari, tanaman sudah bisa dipanen. Ini jadi bagian pembelajaran sekaligus melatih keterampilan mereka,” katanya.
Hendra menambahkan, hasil panen tersebut mulai dipasarkan meski masih terbatas pada momen panen. Keuntungan dari penjualan dibagi sesuai ketentuan, mulai dari pemasukan negara, pengembalian modal, hingga premi bagi warga binaan yang terlibat.
Di sektor lain, Lapas Ambon turut mengembangkan produk kerajinan seperti pen holder berbahan kayu hitam, serta membuka layanan jasa pembuatan pagar dan pengelasan.
Dalam waktu dekat, pihaknya juga akan membuka stan pameran produk warga binaan di Kantor Imigrasi Ambon. Langkah ini diharapkan dapat memperluas akses pasar, mengingat tingginya mobilitas masyarakat di lokasi tersebut.
“Kami ingin produk warga binaan lebih dikenal dan punya nilai jual. Tidak harus mewah, yang penting diminati masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Hendra juga tengah mempersiapkan partisipasi Lapas Ambon dalam ajang Indonesian Prison Product and Art Festival (IPPAFest) yang akan digelar di Jakarta dalam rangka Hari Bakti Pemasyarakatan.
Ia menegaskan akan membawa produk khas Maluku seperti minyak kayu putih, olahan kenari, hingga ikan asin untuk dipamerkan di tingkat nasional.
“Pengalaman saya sebelumnya, justru produk sederhana yang laku keras. Yang penting punya nilai jual dan dekat dengan masyarakat,” ungkapnya.
Saat ini, jumlah penghuni Lapas Kelas IIB Ambon tercatat sebanyak 389 orang, dengan mayoritas berusia lanjut. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam mengembangkan program pembinaan berskala besar.
“Kita sesuaikan dengan kondisi yang ada. Yang penting mereka tetap produktif dan punya bekal setelah bebas nanti,” tandasnya. (DN)













