DN. Com, -Inamosol — Kepala Puskesmas (Kapus) Inamosol, Alexander Lesil, akhirnya angkat bicara terkait pemberitaan yang menuding dirinya melakukan pemotongan anggaran dan penyalahgunaan dana pegawai. Ia dengan tegas membantah seluruh isi berita tersebut dan menyebutnya sebagai fitnah yang tidak berdasar.
“Saya tidak pernah mengakui apa pun. Semua yang ditulis itu kebohongan publik dan fitnah murni,” tegas Alexander Lesil saat memberikan klarifikasi.
Menurutnya, sejumlah angka yang dimuat dalam pemberitaan tersebut sengaja direkayasa untuk membentuk opini negatif terhadap dirinya. Ia mencontohkan tuduhan pemotongan sebesar Rp700 ribu dan Rp500 ribu per pegawai yang kemudian dikalkulasi hingga mencapai Rp576 juta.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Itu tidak benar. Faktanya hanya Rp200 ribu per pegawai, dan itu bukan pemotongan sepihak, melainkan iuran sukarela hasil kesepakatan bersama,” jelasnya.
Alexander menegaskan, iuran tersebut telah disepakati seluruh pegawai dan dituangkan dalam perjanjian resmi di atas materai Rp10.000. Ia menyebut langkah itu diambil sebagai solusi atas ketiadaan anggaran operasional, khususnya untuk kebutuhan alat tulis kantor (ATK) di puskesmas.
“Kami tidak punya anggaran ATK dari pemerintah daerah maupun dinas kesehatan. Agar pelayanan tetap berjalan, kami sepakat untuk iuran bersama. Ini bentuk gotong royong, bukan pemerasan,” katanya.
Ia juga membantah keras tuduhan adanya pembagian dana sebesar Rp30 juta kepada sejumlah pihak, termasuk dirinya, bendahara, hingga pejabat lainnya.
“Itu karangan yang sangat jahat. Tidak pernah terjadi pembagian uang seperti yang dituduhkan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Alexander menilai pemberitaan tersebut tidak memenuhi prinsip dasar jurnalistik karena tidak pernah melakukan konfirmasi kepada dirinya sebelum dipublikasikan.
“Media seharusnya bekerja profesional dengan mengedepankan klarifikasi. Ini justru memelintir fakta dan berpotensi membunuh karakter seseorang,” katanya.
Ia menduga, tuduhan tersebut berkaitan dengan dinamika internal menjelang pergantian jabatan kepala puskesmas. Namun demikian, ia menekankan bahwa proses tersebut seharusnya dilakukan secara profesional, bukan melalui penyebaran informasi yang tidak benar.
“Kalau memang ada pergantian, lakukan secara elegan. Jangan dengan cara menyebarkan hoaks dan fitnah,” pungkasnya.
Alexander berharap klarifikasi ini dapat meluruskan informasi yang beredar di masyarakat serta mengembalikan kepercayaan publik terhadap pelayanan di Puskesmas Inamosol. (DN)













