DN. Com, -AMBON – Gelombang kecaman publik menerpa Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Maluku. Sorotan tajam kini mengarah pada oknum Sekretaris DPD KNPI Maluku berinisial Crisno Rikumahu (CR), yang terseret skandal dugaan perselingkuhan, penguasaan aset secara paksa, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Kasus ini meledak setelah seorang perempuan berinisial DT, yang mengaku telah hidup serumah dengan CR selama empat tahun, buka suara. DT mengungkapkan bahwa ia selama ini menjadi “tulang punggung” finansial bagi CR, namun justru dibalas dengan pengkhianatan menyakitkan.
Hidup Mewah dari Uang Korban
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan nada emosional, DT membongkar fakta bahwa seluruh kebutuhan hidup CR, mulai dari makan, pakaian, hingga barang-barang mewah, sepenuhnya dibiayai oleh dirinya.
“Beta yang kerja, beta yang biayai dia. Dari makan, pakaian, sampai barang mahal, semua beta yang tanggung. Dia tinggal pakai untuk tampil di luar,” ungkap DT penuh kekecewaan.
Lebih miris lagi, DT merasa fasilitas yang diberikannya justru digunakan CR untuk memikat perempuan lain. “Dia pakai semua dari beta untuk gaya dan tipu beta. Itu yang beta seng bisa terima,” tegasnya.
Selingkuh dengan Dosen yang Berstatus Istri Polisi
Kekecewaan DT memuncak setelah menemukan bukti dugaan hubungan terlarang antara CR dengan seorang perempuan yang disebut-sebut sebagai dosen di Ambon dan merupakan istri dari seorang anggota polisi.
“Selama ini dong datang di rumah bilang saudara. Beta percaya. Ternyata di belakang beta, dong dua ada hubungan,” beber DT. Ia menambahkan bahwa isu tersebut sebenarnya sudah lama beredar, namun selalu dibantah oleh pihak CR hingga ia melihat buktinya sendiri.
Puncak penghinaan terasa bagi DT ketika mengetahui CR diam-diam mengikuti prosesi SIDI (sakramen penguatan iman dalam agama Kristen) bersama perempuan tersebut tanpa sepengetahuannya, padahal mereka sudah empat tahun menjalin hubungan serius.
“Empat tahun katong hidup satu rumah, bukan hubungan biasa. Tapi dia bisa sembunyi pigi SIDI dengan perempuan lain. Yang urus, yang antar ke gereja juga dia. Beta di rumah tapi seng tahu apa-apa,” tuturnya pilu.
Ironisnya, dua hari sebelum acara syukuran SIDI tersebut, CR masih meminta uang kepada DT dengan alasan mulia. “Dia minta uang untuk syukuran. Beta seng mau kasih, tapi karena beta liat dia dan mamanya su menangis memohon, ya sudah pikir itu hal baik. Ternyata beta dimanfaat lagi,” kenangnya.
Aset Diamankan, Tuduhan KDRT Mencuat
Konflik memuncak ketika DT berusaha mengambil kembali hak-haknya berupa uang tunai Rp 15 juta, satu unit sepeda motor, dan sebuah iPhone 17 Pro Max yang dikuasai CR. DT bergegas mengambil barang-barang tersebut karena menduga CR berencana menjualnya untuk biaya keberangkatan ke Jakarta pada 17 April mendatang.
“Motor itu beta punya, tapi dia mau jual untuk ongkos pigi Jakarta. Untung beta su amankan duluan,” ujar DT.
Upaya pengambilan aset ini berujung ricuh di depan umum, tepatnya di kawasan Bank BRI. DT mengaku tidak hanya dimaki-maki oleh CR di hadapan orang banyak, tetapi juga pernah mengalami kekerasan fisik selama hubungan mereka berlangsung.
“Beta sering dipukul. Beta tahan lama, tapi sekarang beta seng bisa lagi diam. Beta cuma mau ambil barang beta, tapi dia maki beta di depan orang banyak. Itu beta rasa sangat memalukan,” tuturnya. Karena merasa tidak aman, DT saat itu didampingi oleh kerabatnya yang merupakan anggota polisi.
Desakan Evaluasi Jabatan
Kasus ini kian memanaskan suasana setelah sebelumnya sempat viral namun dibantah oleh pihak terkait. Kini, dengan pengakuan detail dari korban, publik semakin yakin adanya upaya penutupan fakta.
Sorotan keras mengarah pada integritas CR sebagai figur publik di organisasi kepemudaan. Seorang pemerhati sosial yang enggan disebutkan namanya menilai kasus ini mencoreng marwah KNPI.
“Kalau benar, ini sangat memalukan. Figur publik harusnya jadi contoh, bukan bikin skandal. Ini menyangkut moralitas,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Crisno Rikumahu (CR) belum memberikan klarifikasi resmi atas seluruh tudingan berat tersebut, termasuk soal dugaan KDRT dan penguasaan aset. Publik dan pengurus KNPI pusat kini mendesak adanya evaluasi tegas terhadap posisi yang bersangkutan demi menjaga nama baik organisasi.(DN/Red)













