Referensimaluku.id, -AMBON – Krisis antrean bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di Kota Ambon kian meluas. Setelah sebelumnya terjadi di kawasan Kebun Cengkeh dan SPBU Soabali, fenomena serupa kini dilaporkan terjadi di kawasan SPBU Belakang Kota. Antrean kendaraan dikabarkan mengular hingga hampir satu kilometer, mencapai area sekitar Tugu Trikora.
Berdasarkan pantauan di lapangan, antrean panjang tersebut didominasi oleh kendaraan roda dua dan roda empat yang memenuhi badan jalan. Dampaknya, arus lalu lintas di ruas jalan utama tersebut tersendat parah dan nyaris lumpuh total, terutama pada jam-jam sibuk. Pengendara yang tidak berniat mengisi BBM pun ikut terdampak kemacetan karena sebagian lajur jalan tertutup oleh kendaraan yang mengantre.
“Antrean dari SPBU Soabali sudah sampai dekat Tugu Trikora. Macet total, kendaraan susah bergerak,” keluh salah satu warga yang terjebak dalam kemacetan tersebut, Senin (30/3).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi ini semakin memperkuat kekhawatiran masyarakat Ambon terkait ketersediaan stok Pertalite. Dalam beberapa hari terakhir, banyak warga mengaku harus berkeliling dari satu SPBU ke SPBU lain, termasuk menuju kawasan Belakang Kota, hanya untuk mendapatkan BBM bersubsidi tersebut.
Menanggapi keresahan warga, pihak PT Pertamina Patra Niaga melalui Pjs. Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Papua Maluku, Bramantyo Rahmadi, memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa antrean panjang ini dipicu oleh faktor teknis di lapangan, bukan akibat kelangkaan stok BBM.
“Antrean terjadi bersamaan dengan proses pembongkaran (unloading) Pertalite sebanyak 16.000 liter di SPBU tersebut. Akibatnya, pelayanan pengisian sempat dihentikan sementara selama proses berlangsung,” jelas Bramantyo.
Selain proses bongkar muat, Bramantyo menambahkan bahwa pada waktu yang sama, salah satu nozzle Pertalite sedang dalam perawatan rutin guna menjaga akurasi takaran. Keterbatasan alat ini memaksa pengelola SPBU menggabungkan antrean kendaraan roda dua dan roda empat dalam satu jalur, yang secara otomatis memperlambat laju pelayanan dan memicu antrean memanjang.
Meski demikian, pihaknya memastikan bahwa pasokan Pertalite di Ambon tetap aman dan tersedia. Distribusi diprediksi akan kembali normal segera setelah kendala teknis dan proses perawatan tersebut selesai.
Kendati telah ada penjelasan resmi, dampak di lapangan terlanjur meluas. Antrean panjang tidak hanya memicu kemacetan parah, tetapi juga mengganggu aktivitas harian masyarakat serta distribusi barang di sejumlah ruas jalan vital Kota Ambon.
Warga berharap ke depan pihak pengelola SPBU dapat menerapkan pengaturan teknis yang lebih baik, terutama saat melakukan proses bongkar muat maupun perawatan fasilitas. Hal ini dinilai penting agar tidak kembali memicu antrean panjang yang merugikan banyak pihak dan melumpuhkan arus lalu lintas kota. (DN)













